Pasar ponsel rekondisi diperkirakan mencapai separuh dari total penjualan handphone di Tanah Air. Barang ini adalah hasil daur ulang limbah telepon genggam luar negeri yang diselundupkan ke Indonesia.
Liputan6.com, Jakarta: Handphone, saat ini seolah sudah menjadi kebutuhan penting. Selain sebagai sarana komunikasi, benda mungil ini juga telah menjadi gaya hidup. Diperkirakan, angka penjualan telepon seluler alias ponsel di Indonesia dalam sehari mencapai 8.000 unit. Ini artinya, hampir 10 juta unit telepon genggam laris manis terjual di pasaran Tanah Air dalam setahun.
Namun tahukah Anda? Ternyata, tak sedikit ponsel di pasaran adalah hasil daur ulang alias HP rekondisi. Sebagian lainnya menyebut handphone refurbish atau barang bergaransi toko. Tak ada angka pasti jumlah HP rekondisi yang beredar. Namun diperkirakan jumlah peredarannya nyaris separuh dari total penjualan HP di Indonesia.
Penelusuran tim Sigi SCTV, belum lama ini, menunjukkan HP rekondisi dijual dengan harga yang sangat murah bahkan bisa terpaut 25 hingga 50 persen dari harga tipe sejenis yang paten. Namun, HP jenis ini sangat rentan. Namanya barang berkomponen bekas, komponennya bisa aus dalam hitungan hari.
Pasar HP rekondisi sangat gampang ditemukan. Sebuah toko di kawasan pertokoan bilangan Jakarta Selatan misalnya, mengaku siap memasok ratusan bahkan ribuan unit HP rekondisi berbagai merek dan jenis. Tim Sigi juga mendapati sejumlah HP merk ternama macam Moto yang dilego hanya seharga Rp 300 ribu. Atau, PDA (Personal Digital Assistant) merek Kyocera buatan Amerika Serikat yang dijual sekitar Rp 1 juta. Melihat harganya yang sedemikian murah, tim Sigi yakin HP tersebut hasil daur ulang.
Lewat bantuan seorang teknisi HP terlatih dan berpengalaman, tim Sigi membongkar sejumlah HP yang diduga kuat hasil rekondisi. Dari hasil pemeriksaan, dipastikan HP CDMA (Code division multiple access) merek Nexian yang tengah laris-larisnya di pasaran ini adalah barang rekondisi. Sejumlah komponen telepon tersebut sudah usang dan hanya diperkirakan hanya bisa bertahan dalam dua atau tiga bulan. “Di negara asalnya, HP ini sudah tak layak pakai,” ujar sang teknisi. Demikian juga dengan ponsel merek Nokia tipe 2126 yang sangat populer di Tanah Air.
Pabrikan Nexian jelas membantah temuan ini. Presiden Direktur PT Metrotech Jaya Komunika Martono Jaya Kusuma membantah jika produk HP-nya adalah hasil daur ulang. Ia menjamin semua komponen yang diimpor 100 persen baru. “Semua dikirim dalam kondisi baru dan dirakit di Indonesia,” jelas Martono.
Lain halnya dengan pihak Nokia. Mereka tak membantah jika Nokia tipe 2126 adalah HP rekondisi. Cuma, Nokia tipe tersebut tak diproduksi Nokia Indonesia. Barang tersebut juga mestinya tak dijual di Indonesia alias kemungkinan barang selundupan. “Hanya diedarkan di Amerika Latin,” ujar salah seorang teknisi resmi Nokia.
Sebenarnya seperti apakah HP rekondisi itu? Menurut seorang ahli telepon seluler Kusuma, kebanyakan HP rekondisi didaur ulang dari ponsel bekas yang sudah menjadi limbah di luar negeri. Limbah-limbah HP tersebut diambil mesin dan LCD monitornya kemudian dirakit ulang. Sementara casing, charger dan aksesori lainnya diganti baru.
Umumnya, HP bekas itu didatangkan dari negara-negara di Asia seperti Korea, Jepang, dan Cina. Tak sedikit juga yang diimpor dari Amerika dan beberapa negara di Eropa. Barang bekas ini kemungkinan kuat didatangkan secara ilegal melalui jaringan yang sangat rapi. Modus yang pernah terbongkar adalah memasukkan barang ke Indonesia dengan cara dipisah-pisah antara handset dan aksesorinya. “Paling banyak Nokia dan Samsung,” imbuh Kusuma.
Di Indonesia, barang-barang tersebut lantas dipereteli dan dirangkai kembali. Tentu saja dibalut dalam casing yang gres. Yang paling mencengangkan, HP-HP hasil daur ulang itu dikemas dalam dus-dus baru yang sangat mirip resmi.
Usut punya usut, dus-dus merek HP ternama seperti Nokia ternyata diperjualbelikan secara bebas. Barang yang tentu saja palsu ini bisa dibeli dengan harga Rp 20 ribu berikut buku manual dan perangkat lunaknya.
Lantas bagaimana dengan nomor seri mesinnya? Rupanya, urusan ini pun memiliki pasar tersendiri. Penelusuran tin Sigi menemukan fakta bahwa satu nomor seri IMEI (International Mobile Equipment Identification) atau nomor mesin HP diperjualbelikan hanya dengan harga Rp 3.500. Paket IMEI ini berikut barcode dan nomor register HP.
Jika mesin HP bekas sudah dibalut casing baru lalu dibungkus dus lengkap dengan aksesorinya, maka ponsel rekondisi tersebut siap dijual ke pasaran layaknya barang paten 100 persen. Umumnya, masyarakat tak akan bisa membedakannya mana HP aspal ini dengan HP merek paten bergaransi resmi pabrik. Penampilan fisik keduanya tak jauh berbeda.
Pada akhirnya, konsumen harus lebih waspada dan teliti sebelum membeli agar tak menyesal karena barang yang dibeli tak seperti yang diharapkan. Kejujuran sang penjual pun menjadi faktor yang tak kalah penting. Satu hal yang pasti, ada baiknya konsumen membeli HP di agen atau vendor resmi produsen telepon genggam.(TOZ/ Tim Sigi SCTV)
Sumber :
http://www.liputan6.com/view/8,130095,1,0,1160619166.html













